Nasional – Menjelang dimulainya kembali aktivitas belajar mengajar pada awal tahun depan, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) memastikan kesiapan ribuan satuan pendidikan yang sempat lumpuh akibat bencana hidrometeorologi di wilayah Sumatera.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, menyampaikan bahwa proses pemulihan berjalan cukup progresif.
Dalam keterangan persnya di Markas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Jakarta, pada Selasa (30/12/2025), Mu’ti menyebutkan bahwa mayoritas sekolah yang terdampak kini sudah siap menyambut siswa.
“Rencana kegiatan belajar mengajar akan kita mulai pada 5 Januari 2026. Hingga saat ini, dari total 4.149 sekolah yang terdampak di tiga provinsi, sebanyak 3.508 sekolah atau sekitar 85 persen sudah bisa beroperasi kembali,” jelas Abdul Mu’ti, seperti dikutip dari Liputan6.
Secara rinci, tingkat pemulihan tertinggi tercatat di Sumatera Utara dengan 902 sekolah (95 persen) siap beroperasi.
Disusul oleh Sumatera Barat dengan 380 sekolah (86 persen), dan Aceh sebanyak 2.226 sekolah (81 persen).
Mengingat situasi yang belum sepenuhnya normal, Abdul Mu’ti menegaskan pendekatan humanis dalam pelaksanaan pendidikan di wilayah terdampak.
Ia menginstruksikan agar sekolah tidak memaksakan aturan ketat seperti pada kondisi normal.
“Kondisi di lapangan berbeda-beda, jadi tidak harus belajar secara normal. Siswa diperbolehkan tidak memakai seragam atau sepatu jika memang perlengkapannya hilang atau rusak terbawa banjir. Kurikulum yang diterapkan pun dirancang khusus menyesuaikan situasi darurat,” tegasnya.
Meski pemulihan mencapai angka positif, Mu’ti tidak menampik masih ada kendala berat di lapangan.
Sebanyak 587 sekolah masih dalam tahap pembersihan lumpur dan material sisa banjir.
Rinciannya meliputi 516 sekolah di Aceh, 42 di Sumatera Barat, dan 29 di Sumatera Utara.
Bahkan, terdapat 54 sekolah yang mengalami kerusakan infrastruktur sangat parah hingga hancur total.
Untuk menyiasati hal ini, kegiatan belajar mengajar di lokasi tersebut akan dialihkan ke tenda-tenda darurat.
“Ada 54 titik yang harus menggunakan tenda karena kerusakan bangunan yang sangat serius. Kami telah mendirikan 14 tenda sekolah di Aceh, 21 di Sumatera Barat, dan 19 di Sumatera Utara,” paparnya.
Guna mendukung kelancaran proses belajar, Kemendikdasmen telah menyalurkan bantuan logistik secara masif.
Total bantuan mencapai 27.000 paket school kit yang disebar ke Aceh (15.500 paket), Sumatera Utara (6.500 paket), dan Sumatera Barat (5.000 paket).
Selain itu, infrastruktur darurat juga telah disiapkan berupa 147 unit tenda dan pembangunan 160 ruang kelas darurat di ketiga provinsi tersebut untuk memastikan hak pendidikan anak-anak tetap terpenuhi pasca-bencana.





