Ragam – Gelombang penolakan terhadap keputusan pemerintah Indonesia bergabung dalam Board of Peace bentukan Donald Trump mulai bermunculan.

Kritik tajam datang dari penceramah kondang, Felix Siauw, yang menilai langkah tersebut sebagai bentuk “penjajahan pemikiran” dan menyoroti logika pemerintah yang dinilainya tidak masuk akal dalam memandang konflik Gaza.

Pernyataan keras ini disampaikan Felix Siauw dalam sebuah tanggapan yang dirilis pada Hari Ahad (25/1/2026).

Ia mengaku tidak habis pikir dengan narasi yang berulang kali disampaikan oleh Presiden Prabowo Subianto terkait “menjamin keamanan Israel” di tengah genosida yang masih berlangsung di Palestina.

Untuk menggambarkan situasi tersebut, Felix menggunakan analogi sebuah keluarga yang dirampok secara sadis.

Dalam analoginya, sang ayah dan anak laki-laki dibunuh, sementara anak perempuan diperkosa dan ibunya diculik.

Namun, ironisnya, tokoh lingkungan setempat justru meminta warga untuk menjamin keamanan si perampok agar masalah selesai.

“Gila nggak? Bayangkan, pembunuhan terjadi di depan mata, tapi solusinya malah menjamin keamanan perampoknya. Itu sama persis dengan narasi ‘kita harus menjamin keamanan Israel’. Bagi saya, ini bukan hanya tidak normal, tapi ini cara berpikir yang sangat sesat,” tegas Felix.

Menurutnya, dunia internasional, termasuk Indonesia, seharusnya fokus pada kejahatan kemanusiaan yang dilakukan pelaku, bukan malah sibuk memikirkan keselamatan pihak yang melakukan agresi.

Felix juga menyoroti keputusan Indonesia masuk ke dalam Board of Peace yang diinisiasi Amerika Serikat.

Ia menyebut forum tersebut sebagai “penjajahan gaya baru” yang melegitimasi kezaliman.

Ia mempertanyakan efektivitas badan tersebut yang diisi oleh tokoh-tokoh seperti Benjamin Netanyahu dan Tony Blair, serta dipimpin oleh Donald Trump yang notabene adalah pemasok senjata utama bagi Israel.

“Di titik mana Board of Peace itu menyediakan solusi bagi Palestina? Siapa yang menyediakan senjata untuk membombardir saudara kita? Amerika. Lalu kita disuruh bayar Rp 1,6 triliun untuk masuk ke sana? Saya benar-benar tidak bisa memahami logika ini,” ujarnya.

Ia menilai, bergabungnya Indonesia ke dalam forum tersebut justru menjebak bangsa ini untuk melegitimasi skenario yang dibuat oleh pihak-pihak yang selama ini mendukung pendudukan di Palestina.

Di akhir pernyataannya, Felix Siauw menyebut apa yang terjadi saat ini adalah krisis nalar.

Ia tidak menuntut kecerdasan yang luar biasa dari pemimpin, melainkan hanya pola pikir “normal” yang berpihak pada korban, bukan pelaku.

“Kenapa tidak pernah bilang Palestina yang harus kita utamakan? Kenapa penjahat tidak diadili seadil-adilnya? Kita sedang mengalami penjajahan pemikiran, dipaksa untuk tidak bisa berpikir normal dan menjadi stempel bagi kezaliman yang nyata,” pungkasnya.

Pernyataan ini menambah daftar panjang kritik dari elemen masyarakat sipil yang menyayangkan manuver diplomasi Indonesia yang dianggap terlalu lunak terhadap blok Barat dan mengaburkan komitmen konstitusi untuk menghapuskan penjajahan di atas dunia.

Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *