Internasional – Temperatur geopolitik di kawasan Teluk Persia mendidih.

Pemerintah Iran mengeluarkan ultimatum keras merespons pergerakan armada tempur masif Amerika Serikat yang kian mendekat ke perairan Timur Tengah.

Teheran menegaskan tidak akan menoleransi provokasi sekecil apa pun dan siap mengobarkan “perang total” jika kedaulatan mereka terusik.

Peringatan tersebut disampaikan oleh seorang pejabat senior Iran yang meminta identitasnya dirahasiakan.

Dalam keterangannya pada Sabtu (24/1/2026), ia menyebut bahwa seluruh instrumen militer Iran kini dalam status siaga penuh (high alert) untuk mengantisipasi skenario terburuk.

“Kami berharap pengerahan pasukan ini bukan sinyal dimulainya konfrontasi nyata. Namun, militer kami tidak akan mengambil risiko. Kali ini, kami akan menganggap serangan dalam bentuk apa pun, baik itu terbatas, terarah, atau kinetik, sebagai deklarasi perang habis-habisan,” tegas pejabat tersebut, seperti dikutip dari Kompas.

Pernyataan ini merupakan respons langsung terhadap manuver Pentagon yang memerintahkan kapal induk USS Abraham Lincoln beserta tiga kapal perusak pendampingnya untuk berlayar dari Laut China Selatan menuju Timur Tengah.

Menurut laporan intelijen angkatan laut, gugus tempur tersebut telah memasuki Samudra Hindia dan diprediksi tiba di lokasi strategis dalam beberapa hari ke depan.

Armada USS Abraham Lincoln akan bergabung dengan kekuatan AS yang sudah lebih dulu bersiaga, yakni tiga kapal perang di Bahrain dan dua kapal perusak di Teluk Persia.

Total kekuatan tambahan ini diperkirakan membawa sekitar 5.700 personel militer, menambah ribuan pasukan yang sudah ditempatkan di pangkalan Al Udeid, Qatar.

Pejabat Iran tersebut menambahkan bahwa negaranya yang terus-menerus hidup di bawah bayang-bayang ancaman militer Washington tidak memiliki opsi lain selain melawan.

“Jika AS melanggar integritas teritorial kami, kami akan merespons dengan cara sekeras mungkin untuk memulihkan keseimbangan. Siapa pun yang berani menyerang Iran akan menghadapi konsekuensi fatal,” ancamnya.

Sementara itu, dari Washington, Presiden Donald Trump pada Kamis (22/1/2026) mengonfirmasi pergerakan “armada” tersebut.

Meski menyatakan harapannya agar kekuatan militer itu tidak perlu digunakan, Trump tetap melontarkan peringatan kepada Teheran untuk tidak membunuh para demonstran di dalam negeri atau mencoba menghidupkan kembali program nuklir mereka.

Eskalasi ini mengingatkan publik pada ketegangan tahun sebelumnya, di mana AS juga melakukan pengerahan militer besar-besaran sebelum terlibat dalam konflik Israel melawan Iran.

Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *