Internasional – Republik Islam Iran kini tengah menghadapi guncangan domestik paling hebat sejak Revolusi 1979.

Gelombang protes yang meletus sepanjang Januari 2026 ini bukan sekadar luapan emosi sesaat, melainkan akumulasi dari depresi ekonomi ekstrem yang diperparah oleh sanksi internasional dan serangan terhadap instalasi nuklir.

Media pemerintah melaporkan angka kematian mencapai 3.117 jiwa, namun kelompok pemantau seperti HRANA mencatat angka yang jauh lebih mengerikan, yakni sedikitnya 6.126 orang tewas dalam kurun waktu 30 hari terakhir.

Kondisi ekonomi dilaporkan menjadi sumbu utama ledakan massa. Nilai tukar Rial jatuh ke titik terendah sepanjang sejarah, yakni 1,4 juta per 1 Dollar AS, sementara harga bahan pokok melonjak hingga 70 persen.

Ahmad Munjid, pakar keamanan dan perdamaian, pada Jumat (23/01/2026) menilai bahwa krisis ini menandai indikator kerapuhan legitimasi rezim.

Menurutnya, rezim cenderung menggunakan kekerasan membabi buta dan menyalahkan intervensi pihak luar seperti Amerika Serikat dan Israel untuk mempertahankan posisi mereka.

“Rezim penguasa Iran tidak bisa terus-menerus lempar batu sembunyi tangan dengan menimpakan semua kesalahan kepada intervensi asing,” tegas Ahmad Munjid, seperti dikutip dari situs UGM.

Di tengah kekacauan ini, sistem peradilan Iran mulai menjatuhkan vonis berat.

Erfan Soltani (26), seorang pemilik toko pakaian di Fardis, dijatuhi hukuman mati hanya dalam dua hari proses persidangan pascapenangkapannya pada Kamis (22/01/2026).

Meskipun kelompok HAM seperti Hengaw melaporkan eksekusinya sempat tertunda pada Rabu (28/01/2026), kekhawatiran internasional tetap tinggi mengingat tertutupnya akses informasi akibat pemadaman internet yang diberlakukan pemerintah secara sistematis sejak kerusuhan pecah.

PBB melalui pelapor khusus Mai Sato memperingatkan bahwa jumlah korban sebenarnya bisa mencapai 20.000 jiwa berdasarkan laporan dari tenaga medis di lapangan.

Sementara itu, hampir 42.000 orang dilaporkan telah ditangkap oleh aparat keamanan.

Langkah represif ini, yang mencakup pemutusan jaringan listrik dan internet, dinilai Ahmad Munjid justru menciptakan alienasi massal, terutama di kalangan generasi muda yang kian menjauh dari kontrol institusi agama yang ketat.

Dari kancah internasional, Presiden AS Donald Trump memberikan pernyataan kontradiktif.

Di satu sisi, ia mengancam akan mengambil tindakan tegas jika eksekusi demonstran dilanjutkan, namun saat berbicara di Forum Ekonomi Dunia di Davos pada Kamis (22/01/2026), Trump memberi sinyal bahwa pembicaraan dengan Teheran bisa saja dilanjutkan.

Terlepas dari dinamika geopolitik tersebut, tantangan domestik Iran tetaplah pada kebutuhan dasar rakyatnya.

Ahmad Munjid menekankan bahwa meski unjuk rasa mulai mereda di beberapa titik, api protes akan kembali berkobar sewaktu-waktu selama perut rakyat belum kenyang dan kehidupan belum berjalan normal.

Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *