Nasional – Penanganan pascabencana hidrometeorologi basah yang melanda tiga provinsi di Sumatera (Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat) menunjukkan progres yang sangat positif.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengonfirmasi bahwa pemulihan fisik pada lokasi-lokasi yang sebelumnya terendam banjir kini telah mencapai angka sempurna atau 100 persen.

Dalam keterangan pers yang digelar di Graha BNPB, Jakarta Timur, pada Selasa (30/12/2025), Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, mengungkapkan bahwa fokus penanganan kini mulai bergeser.

Dari yang sebelumnya berkutat pada tanggap darurat, kini 21 kabupaten/kota telah memasuki fase transisi darurat menuju pemulihan awal.

“Berdasarkan laporan dari Kementerian Pekerjaan Umum, proses recovery pada titik-titik banjir sudah tuntas 100 persen. Kini kita bergerak ke fase selanjutnya, yakni penyiapan hunian sementara (Huntara) dan pemulihan infrastruktur vital secara menyeluruh,” jelas Abdul Muhari, seperti dikutip dari Liputan6.

Abdul memaparkan bahwa jalur lintas timur dan barat Aceh, termasuk rute vital Banda Aceh–Medan, sudah dapat dilalui kendaraan dengan normal tanpa hambatan.

Secara statistik, dari 38 ruas jalan yang sebelumnya lumpuh, sebanyak 34 ruas atau sekitar 89,4 persen telah berhasil diperbaiki.

Penanganan tebing longsor bahkan mencapai 96 persen, di mana 335 dari 360 titik longsor telah berhasil diatasi dalam waktu satu bulan.

Namun, masih ada pekerjaan rumah (PR) yang tersisa, khususnya pada jalur penghubung Takengon menuju Gayo Lues (Blangkejeren).

“Ruas ini masih dalam proses pengerjaan intensif dan ditargetkan rampung sepenuhnya pada 20 Januari 2026,” tambahnya.

Meski infrastruktur membaik, sisi kemanusiaan masih menjadi perhatian serius. Data BNPB mencatat sebanyak 395.795 jiwa masih bertahan di pengungsian.

Angka korban hilang tercatat 163 orang, dengan satu jenazah baru saja berhasil diidentifikasi oleh tim di lapangan.

Strategi pencarian korban kini diubah. Operasi SAR tidak lagi difokuskan di area pemukiman padat atau pusat ekonomi, melainkan menyisir wilayah luar atau outskirts karena kecilnya kemungkinan korban masih tertimbun di area publik yang sudah bersih.

“Doa dan simpati mendalam terus kami haturkan bagi keluarga korban. Meski fokus bergeser, kekuatan personel pencarian tidak kami kurangi,” tegas Abdul.

Untuk menopang kehidupan ratusan ribu pengungsi, distribusi logistik dilakukan melalui kombinasi jalur darat dan udara, termasuk memanfaatkan Pangkalan Udara Iskandar Muda dan Bandara Rembele di Bener Meriah.

Abdul menekankan bahwa selain makanan, pasokan energi seperti BBM, LPG, dan listrik menjadi kunci utama untuk menggerakkan kembali roda ekonomi warga.

“Jika jalan terhubung dan listrik menyala, maka sinyal telekomunikasi (BTS) aktif dan air bersih (PDAM) mengalir. Ini syarat mutlak agar ekonomi masyarakat bisa bangkit lebih cepat,” pungkasnya.

Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *