Internasional – Perselisihan antara Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dengan Pemimpin Tertinggi Gereja Katolik, Paus Leo XIV, kini meruncing dan menjadi sorotan dunia.

Ketegangan ini dipicu oleh sikap kritis Paus asal Amerika Serikat tersebut terhadap operasi militer gabungan AS dan Israel yang tengah menggempur Iran.

Merasa kebijakannya diusik, Trump melancarkan serangan verbal terbuka melalui media sosialnya.

Serangan tersebut bermula setelah Paus Leo menuliskan pesan perdamaian pada Jumat pekan lalu, yang berbunyi: “Tuhan tidak memberkati konflik apa pun.

Siapa pun yang adalah murid Kristus, Sang Pangeran Damai, tidak pernah berada di pihak mereka yang dahulu mengangkat pedang dan kini menjatuhkan bom.

Tindakan militer tidak akan menciptakan ruang bagi kebebasan atau masa-masa #Perdamaian.”

Tidak terima dengan pernyataan religius yang menyentil kebijakannya itu, Trump membalas dengan keras melalui akun Truth Social miliknya pada akhir pekan lalu.

“Paus ini lemah terhadap kejahatan dan buruk dalam kebijakan luar negeri,” tulis Trump.

Trump juga melontarkan ketidaksukaannya terhadap sikap Vatikan yang dinilai tidak memahami urgensi ancaman nuklir Iran maupun masalah keamanan dari negara-negara lain seperti Venezuela.

“Saya tidak menginginkan seorang Paus yang menganggap tidak masalah Iran memiliki senjata nuklir,” cetusnya.

“Saya tidak menginginkan seorang Paus yang menganggap buruk bahwa Amerika menyerang Venezuela, sebuah negara yang mengirimkan narkoba dalam jumlah besar ke Amerika Serikat dan, lebih buruk lagi, mengosongkan penjaranya, termasuk pembunuh, pengedar narkoba, dan pelaku kejahatan, ke negara kami,” lanjut trump

Lebih jauh, pada Senin (13/04/2026), Trump membanggakan pencapaian pemerintahannya dan merasa tidak sepantasnya dikritik oleh seorang tokoh agama.

“Saya tidak ingin seorang Paus yang mengkritik Presiden Amerika Serikat, padahal saya hanya menjalankan apa yang saya janjikan saat terpilih dengan kemenangan telak, menurunkan angka kejahatan ke level terendah dalam sejarah dan menciptakan pasar saham terbaik sepanjang masa,” ungkap Trump.

Bahkan, dengan penuh percaya diri, Trump mengeklaim bahwa dirinya memiliki andil besar di balik terpilihnya Paus Leo XIV.

“Leo seharusnya bersyukur karena, seperti yang semua orang tahu, terpilihnya dia adalah kejutan besar. Namanya bahkan tidak masuk dalam daftar calon Paus, dan ia hanya dipilih karena dia orang Amerika, yang dianggap sebagai cara terbaik untuk menghadapi Presiden Donald J. Trump. Jika saya tidak berada di Gedung Putih, Leo tidak akan berada di Vatikan,” tulisnya sesumbar.

“Jika saya tak berada di Gedung Putih, Leo tak akan ada di Vatikan,” tambahnya lagi dalam unggahan terpisah.

Presiden dari Partai Republik ini lalu menuntut agar Paus berhenti mencampuri urusan negara dan menyarankan agar ia “menggunakan akal sehat, berhenti memanjakan kelompok kiri radikal, dan fokus menjadi Paus yang hebat, bukan politisi.”

Trump juga memperingatkan bahwa, “Sikap ini sangat merugikan dirinya, dan yang lebih penting, merugikan Gereja Katolik.”

Situasi semakin memanas ketika pada Rabu (15/04/2026), Trump membagikan ulang sebuah gambar yang memperlihatkan sosok Yesus Kristus seolah sedang memeluknya dari belakang.

“Orang-orang gila Kiri Radikal mungkin tidak menyukai ini, tetapi menurut saya ini cukup bagus!!!” tulis Trump mengomentari gambar tersebut.

Langkah Trump ini langsung mendapat sokongan dari lingkaran terdekatnya.

Wakil Presiden JD Vance bahkan memperingatkan sang Pontifeks mengenai pandangan teologisnya.

“Sangat, sangat penting bagi Paus untuk berhati-hati saat berbicara tentang masalah teologi karena Paus salah jika mengatakan bahwa murid-murid Kristus tidak pernah berpihak pada mereka yang dulu menghunus pedang dan sekarang menjatuhkan bom,” tutur JD Vance, seperti dikutip dari CNBC.

Senada dengan Vance, Ketua DPR AS Mike Johnson juga mempertanyakan pernyataan Paus yang menolak peperangan dengan mengingatkan adanya konsep perang defensif dalam sejarah kekristenan.

“Ini adalah masalah teologi Kristen yang sudah sangat mapan. Ada sesuatu yang disebut doktrin ‘perang yang adil’. Saya sedikit terkejut dengan pernyataan Paus tentang mereka yang terlibat dalam perang, bahwa Yesus tidak mendengar doa mereka atau semacamnya,” ucap Johnson.

Pada Selasa malam, Trump kembali meminta Paus untuk lebih melek terhadap kekejaman rezim Iran.

“Tolong seseorang beri tahu Paus Leo tentang pembunuhan pengunjuk rasa oleh Iran dan bahwa bagi Iran untuk memiliki Bom Nuklir adalah hal yang mutlak tidak dapat diterima,” tulisnya.

Meski dihujani cibiran dari Gedung Putih, Paus Leo menanggapi dengan sangat tenang. Saat dimintai tanggapan mengenai makian Trump di media sosial tersebut, ia hanya memberikan jawaban singkat namun menohok.

“Ironis, bahkan dari nama platformnya saja. Tidak perlu saya tambahkan lagi,” ujar Paus Leo.

Tindakan Trump menyerang simbol perdamaian ini justru memicu reaksi negatif dari politisi sekutu di Eropa.

Wakil Perdana Menteri Italia, Matteo Salvini, yang biasanya sejalan dengan Trump, kali ini angkat suara membela Vatikan.

“Jika ada satu orang yang bekerja untuk perdamaian, itu adalah Paus Leo,” ujarnya. “Menyerang Paus, simbol perdamaian dan pemimpin spiritual bagi miliaran umat Katolik, tidak tampak sebagai tindakan yang berguna dan cerdas.”

Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *