Prof Abdul Somad mengungkap hubungan sejarah mendalam antara bangsawan Kedatuan Luwu dengan kerajaan-kerajaan Melayu di Riau dan Sumatera saat kunjungan di Luwu Utara.

Luwu Utara – Kunjungan Ustaz Abdul Somad ke Kabupaten Luwu Utara tidak hanya diisi dengan penyampaian tausiah dalam kegiatan Tablig Akbar.

Pendakwah asal Riau tersebut juga mengungkap hubungan sejarah antara bangsawan Luwu dengan sejumlah kerajaan Melayu di Riau, Kepulauan Riau, Johor, Pelalawan, dan Sumatera Utara.

Perbincangan mengenai sejarah itu berlangsung ketika Abdul Somad menikmati jamuan bersama jajaran Pemerintah Kabupaten Luwu Utara.

Dalam video yang diunggah melalui akun Facebook Bupati Luwu Utara, kepala daerah tersebut meminta Abdul Somad menjelaskan hubungan antara Kedatuan Luwu dan kerajaan-kerajaan Melayu.

Menanggapi pertanyaan itu, Abdul Somad mengawali penjelasannya dengan menyebut nama Opu Daeng Celak, salah seorang bangsawan dari Luwu yang mempunyai pengaruh besar dalam perjalanan kerajaan Melayu.

Menurut Abdul Somad, Opu Daeng Celak pernah diangkat Sultan Mahmud Riayat Syah sebagai Yang Dipertuan Muda Riau.

Kedudukan tersebut menempatkannya sebagai salah satu tokoh penting dalam pemerintahan Kesultanan Melayu Johor-Riau.

Opu Daeng Celak kemudian memiliki seorang putri bernama Engku Putri Hamidah.

Abdul Somad menjelaskan bahwa Engku Putri Hamidah menikah dengan Sultan Mahmud Riayat Syah dan memperoleh Pulau Penyengat sebagai pemberian pernikahan.

Pulau tersebut kemudian berkembang menjadi salah satu pusat peradaban Melayu.

Di dalamnya berdiri masjid bersejarah yang dikenal dengan nama Masjid Raya Sultan Riau Penyengat.

Abdul Somad mengatakan, jumlah kubah dan ornamen tertentu di masjid tersebut dibuat sebanyak 17 sebagai simbol jumlah rakaat salat wajib dalam sehari.

Ia menyebut bangunan itu masih berdiri dan menjadi bagian penting dari peninggalan sejarah Melayu.

Ia pun mengundang Bupati, Wakil Bupati, DPRD, serta unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah Luwu Utara untuk berkunjung ke Pulau Penyengat dan melihat langsung berbagai peninggalan sejarah di kawasan tersebut.

Hubungan Luwu dengan Riau juga dijelaskan melalui garis keturunan Raja Haji Fisabilillah.

Tokoh tersebut merupakan anak Opu Daeng Celak yang dikenal karena perjuangannya melawan kolonial Belanda.

Raja Haji Fisabilillah kemudian memiliki keturunan bernama Raja Ahmad.

Dari Raja Ahmad lahir Raja Ali Haji, sastrawan dan intelektual Melayu yang berperan besar dalam perkembangan bahasa Melayu.

Abdul Somad menyebut Raja Ali Haji sebagai tokoh yang menyusun tata bahasa Melayu Riau, bahasa yang kemudian menjadi salah satu dasar perkembangan bahasa Indonesia.

Raja Ali Haji juga dikenal melalui karya sastra berjudul Gurindam Dua Belas.

Karya tersebut berisi nasihat mengenai agama, moral, kehidupan bermasyarakat, pemerintahan, dan hubungan antarmanusia.

Menurut Abdul Somad, garis keturunan Raja Ali Haji menunjukkan bahwa masyarakat Luwu mempunyai hubungan sejarah yang kuat dengan perkembangan bahasa dan kesusastraan Melayu.

“Bahasa Indonesia kita berasal dari bahasa Melayu Riau. Orang yang pakar menuliskan bahasa itu adalah Raja Ali Haji, keturunan Opu Daeng Celak dari Luwu,” kata Abdul Somad.

Selain Opu Daeng Celak, Abdul Somad turut menguraikan perjalanan keturunan Opu Daeng Parani.

Bangsawan Luwu tersebut disebut memiliki seorang putri bernama Daeng Khatijah.

Daeng Khatijah kemudian menikah dengan Sultan Abdul Jalil Alamuddin Syah, raja keempat Kerajaan Siak Sri Indrapura.

Pernikahan itu melahirkan seorang putri bernama Tengku Embung Badariah.

Tengku Embung Badariah selanjutnya menikah dengan Habib Syarif Utsman Syahabuddin.

Abdul Somad menggambarkan pernikahan tersebut sebagai pertemuan tiga garis keturunan, yakni Melayu, Luwu, dan keturunan Nabi Muhammad.

Dari pasangan itu lahir Sayid Ali yang kemudian menjadi sultan ketujuh Kerajaan Siak Sri Indrapura.

Keturunan lainnya, Sayid Abdurrahman, disebut menjadi sultan pertama Kerajaan Pelalawan.

Sementara itu, Sayid Ahmad menjadi Yang Dipertuan Negeri Tebing Tinggi, wilayah yang kini berkembang menjadi Kota Tebing Tinggi di Sumatera Utara.

Rangkaian sejarah tersebut, menurut Abdul Somad, menunjukkan luasnya pengaruh bangsawan Luwu dalam pembentukan dan perkembangan sejumlah kerajaan Melayu.

“Darah Luwu ini menyebar ke Johor, Riau, Sumatera, Tebing Tinggi, dan Pelalawan. Mereka ikut membangun kerajaan-kerajaan,” ujarnya.

Abdul Somad berharap kisah perjalanan bangsawan Luwu tidak hanya disampaikan melalui ceramah, khotbah, maupun perbincangan singkat.

Ia mendorong insan kreatif mengemas sejarah itu menjadi film, animasi, kartun, atau novel.

Menurutnya, penyajian sejarah melalui karya populer dapat membantu anak-anak dan generasi muda memahami perjalanan leluhur mereka.

Pemahaman tersebut dinilai penting untuk membangun hubungan emosional antara masyarakat Luwu dengan masyarakat Riau dan berbagai daerah lain yang mempunyai keterkaitan sejarah.

Abdul Somad mengatakan hubungan tersebut tidak hanya dibentuk oleh kesamaan sebagai warga Negara Kesatuan Republik Indonesia atau persaudaraan sesama umat Islam.

Masyarakat kedua daerah juga dipertemukan oleh akar sejarah dan hubungan kekerabatan.

Ia mengingatkan bahwa sebuah masyarakat akan kehilangan identitas ketika dipisahkan dari sejarahnya.

Karena itu, pengetahuan mengenai asal-usul dan perjalanan para pendahulu perlu terus diwariskan.

“Orang kalau mau dimusnahkan tidak harus dibom atom, tetapi dicabut dari sejarahnya. Anak-anak kita mesti mengerti sejarah agar ketika bertemu, mereka mengetahui bahwa ada ikatan di antara mereka,” tuturnya.

Kehadiran Abdul Somad di Luwu Utara juga dimaknainya sebagai perjalanan napak tilas.

Sejak kecil, ia telah mendengar kisah Opu Daeng Parani, Opu Daeng Marewah, Opu Daeng Celak, serta para bangsawan Bugis lainnya yang berpengaruh di kerajaan Melayu.

Kunjungannya ke wilayah Tana Luwu membuatnya dapat melihat langsung daerah asal para bangsawan tersebut.

Abdul Somad juga mengaku tidak heran dengan semangat masyarakat Luwu Utara ketika mengikuti kegiatan keagamaan.

Dengan nada bergurau, ia menghubungkan keberanian masyarakat setempat dengan karakter para bangsawan Luwu yang namanya telah lama dikenal di tanah Melayu.

Usai berada di Luwu Utara, Abdul Somad dijadwalkan singgah di Kabupaten Pinrang.

Ia menyebut perjalanan tersebut berkaitan dengan kisah Datuk Sulaiman, salah seorang tokoh penting dalam sejarah penyebaran Islam di Sulawesi Selatan.

Kunjungan Abdul Somad ke Luwu Utara merupakan bagian dari kegiatan Tablig Akbar yang diselenggarakan Pemerintah Kabupaten Luwu Utara di Lapangan Taman Siswa, Masamba, pada Minggu (26/07/2026).

Kegiatan bertema “Memperkuat Iman, Membangun Ukhuwah, Meraih Ridha Allah” itu diikuti masyarakat dari berbagai kecamatan di Luwu Utara.

Dalam tausiahnya, Abdul Somad mengingatkan masyarakat untuk menjaga silaturahmi sebagai bagian dari upaya memperkuat persaudaraan.

Hubungan baik antarsesama dinilai perlu dipelihara agar kehidupan sosial sosial tetap harmonis.

Ia juga membahas kehidupan rumah tangga, terutama pentingnya membangun hubungan suami istri berdasarkan tanggung jawab, rasa saling menghormati, dan nilai-nilai agama.

Pesan lain yang disampaikan berkaitan dengan kewajiban menunaikan zakat dan anjuran berwakaf.

Selain menjadi bentuk ibadah, zakat dan wakaf dinilai mempunyai manfaat sosial karena dapat membantu masyarakat yang membutuhkan.

Pemerintah Kabupaten Luwu Utara menghadirkan kegiatan tersebut sebagai ruang pembinaan spiritual sekaligus sarana memperkuat kebersamaan masyarakat.

Melalui Tablig Akbar dan perbincangan sejarah tersebut, masyarakat tidak hanya memperoleh pesan keagamaan, tetapi juga pengetahuan mengenai hubungan panjang antara Kedatuan Luwu dan peradaban Melayu di berbagai wilayah Nusantara.

Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *