Internasional – Tirai kekuasaan salah satu keluarga kriminal paling menakutkan di Asia Tenggara resmi ditutup oleh otoritas hukum China.
Pengadilan Menengah Rakyat Shenzhen mengonfirmasi bahwa empat anggota inti dari sindikat keluarga Bai telah menjalani eksekusi mati pada Senin (02/02/2026).
Langkah ini menjadi puncak dari operasi pembersihan besar-besaran Beijing terhadap jaringan kejahatan siber yang bersarang di perbatasan Myanmar.
Kelompok ini, yang selama bertahun-tahun menjadikan wilayah otonom Kokang sebagai markas besar operasi ilegal mereka, dinyatakan bersalah atas daftar kejahatan yang sangat panjang dan brutal.
Tidak hanya mengoperasikan skema penipuan telekomunikasi lintas negara, mereka juga terbukti mendalangi pembunuhan, penyiksaan, hingga peredaran narkotika skala masif.
Dalam persidangan terungkap bahwa operasi kriminal keluarga Bai telah menyebabkan kerugian finansial yang mencengangkan, mencapai 4,2 miliar dolar AS atau setara dengan Rp70,4 triliun.
Namun, angka tersebut hanyalah puncak gunung es.
Di balik keuntungan materi, terdapat jejak darah dari enam warga negara China yang tewas akibat penyiksaan dan pembunuhan yang diperintahkan oleh kelompok ini.
“Kejahatan yang dilakukan sangat sadis. Mereka membangun sebuah ekosistem kriminal yang mencakup penculikan, prostitusi paksa, dan pemerasan di dalam kompleks-kompleks industri yang dijaga ketat layaknya benteng,” demikian bunyi putusan pengadilan yang dikutip dari IDN Times.
Salah satu terpidana yang dieksekusi, Bai Yingcang, memiliki catatan kriminal yang sangat berat.
Selain mengelola pusat penipuan, ia juga merupakan otak di balik produksi dan perdagangan 11 ton metamfetamin (sabu).
Kompleks di Laukkaing yang mereka kelola dikenal sebagai “neraka dunia” bagi para pekerja yang direkrut secara paksa dan disiksa jika gagal memenuhi target penipuan.
Keluarga Bai bukanlah pemain kecil. Mereka dikenal sebagai pemimpin dari “Empat Keluarga Besar” yang menguasai Laukkaing, ibu kota wilayah Kokang.
Kepala keluarga mereka, Bai Suocheng, adalah mantan sekutu kuat pemimpin junta militer Myanmar, Min Aung Hlaing.
Aliansi yang terjalin sejak awal tahun 2000-an ini memberikan mereka kekebalan hukum dan perlindungan militer selama lebih dari dua dekade.
Namun, Bai Suocheng sendiri lolos dari regu tembak.
Pemimpin klan tersebut dilaporkan meninggal dunia akibat penyakit sebelum eksekusi dapat dilaksanakan, meskipun vonis mati juga telah dijatuhkan kepadanya.
Eksekusi terhadap empat anggota keluarganya ini dilakukan hanya sepekan setelah otoritas China juga mengeksekusi 11 anggota sindikat saingan mereka, keluarga Ming.
Hancurnya dinasti Bai bermula pada tahun 2023, ketika Beijing mulai kehilangan kesabaran terhadap Junta Myanmar yang dinilai lamban menangani maraknya warga China yang menjadi korban perdagangan manusia dan penipuan online.
Pemerintah China kemudian memberikan dukungan implisit kepada aliansi pemberontak etnis di Myanmar utara untuk menggempur wilayah kekuasaan para mafia ini.
Operasi militer tersebut berhasil memojokkan sindikat keluarga Bai, yang akhirnya diserahkan ke otoritas China untuk diadili.
Langkah tegas ini menjadi peringatan keras bagi sindikat serupa yang masih beroperasi di Kamboja dan Laos.
PBB mencatat bahwa ratusan ribu orang masih terjebak dalam industri penipuan online ini, dipaksa melakukan love scamming (penipuan asmara) dan investasi kripto bodong di bawah ancaman kekerasan fisik.







