Luwu – Sisi humanis mewarnai aksi unjuk rasa besar-besaran yang digelar oleh aliansi mahasiswa dan masyarakat di Jalan Poros Trans Sulawesi, Belopa, Kabupaten Luwu.

Di tengah panasnya aspal dan ketegangan aksi penutupan jalan menuntut pemekaran Provinsi Luwu Raya, massa aksi menunjukkan empati tinggi kepada para pengguna jalan pada Hari Senin (26/1/2026).

Meskipun memblokade jalan sebagai bentuk tekanan politik, para demonstran tidak melupakan nasib para sopir angkutan logistik yang terjebak antrean panjang.

Mereka berinisiatif membagikan nasi kotak kepada para sopir yang tertahan berjam-jam akibat aksi tersebut.

Jenderal Lapangan aksi, Husain, menjelaskan bahwa inisiatif ini adalah pesan moral bahwa perjuangan pembentukan Provinsi Luwu Raya tetap menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.

Mereka menyadari bahwa sopir logistik juga merupakan rakyat kecil yang terdampak.

“Selain menyuarakan tuntutan pemekaran Provinsi Luwu Raya, kami juga peduli kepada para sopir angkutan logistik. Makanan yang kami bagikan mungkin tidak seberapa, tetapi ini adalah bentuk ketulusan dan empati kami kepada sesama,” ujar Husain di sela-sela aksi.

Ia menegaskan, aksi turun ke jalan ini bukan sekadar luapan amarah, melainkan gerakan terukur yang tetap mengedepankan adab dan martabat masyarakat Tana Luwu.

Hal senada diungkapkan oleh tokoh masyarakat Belopa, Jaya Lobo.

Ia mengapresiasi langkah mahasiswa yang tetap bersikap santun di tengah perjuangan yang keras.

Menurutnya, aksi berbagi makanan ini membuktikan bahwa gerakan menuntut otonomi daerah ini murni untuk kepentingan rakyat, bukan untuk menyengsarakan rakyat.

“Kami berkomitmen untuk tetap bersikap humanis di sela-sela aksi menyuarakan tuntutan pemekaran Provinsi Luwu Raya sebagai provinsi baru yang terpisah dari Sulawesi Selatan,” kata Jaya.

Jaya juga menyerukan agar konsolidasi seluruh elemen masyarakat Luwu terus diperkuat.

Ia menekankan bahwa perjuangan ini adalah tanggung jawab kolektif, bukan hanya beban mahasiswa.

“Ini bukan hanya perjuangan adik-adik mahasiswa. Ini adalah perjuangan seluruh rakyat Luwu Raya. Tidak ada alasan untuk diam dan menunggu,” tegasnya.

Menutup orasinya, Jaya mengingatkan bahwa gelombang perlawanan rakyat tidak akan surut sebelum pemerintah pusat mengabulkan aspirasi mereka.

“Perjuangan ini tidak mengenal kata berhenti. Provinsi Luwu Raya adalah harga mati,” pungkasnya.

Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *