Harga cabai rawit merah melonjak hingga Rp59.150 per kilogram. Simak update harga pangan strategis nasional terbaru menurut data PIHPS Bank Indonesia hari ini.

Nasional – Harga rata-rata cabai rawit merah di tingkat pedagang eceran secara nasional mencapai Rp59.150 per kilogram berdasarkan pembaruan Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional yang dikelola Bank Indonesia.

Data harga pangan yang dipublikasikan pada Kamis (06/08/2026) pagi tersebut juga mencatat harga telur ayam ras segar berada di level Rp29.550 per kilogram.

Cabai rawit merah menjadi komoditas cabai dengan harga rata-rata tertinggi.

Cabai rawit hijau tercatat Rp51.900 per kilogram, cabai merah keriting Rp50.450 per kilogram, dan cabai merah besar Rp49.700 per kilogram.

Pada kelompok bawang, harga rata-rata bawang merah ukuran sedang mencapai Rp40.150 per kilogram.

Sementara itu, bawang putih ukuran sedang berada di level Rp41.350 per kilogram.

Harga daging ayam ras segar tercatat Rp40.100 per kilogram.

Untuk daging sapi, harga kualitas I mencapai Rp151.750 per kilogram, sedangkan kualitas II berada di kisaran Rp144.100 per kilogram.

PIHPS mencatat harga beras kualitas medium I mencapai Rp16.450 per kilogram.

Beras kualitas medium II diperdagangkan dengan harga rata-rata Rp16.250 per kilogram.

Harga beras kualitas bawah I tercatat Rp14.700 per kilogram dan kualitas bawah II Rp14.650 per kilogram.

Sementara itu, beras super I dijual rata-rata Rp17.750 per kilogram dan beras super II Rp17.200 per kilogram.

Pada komoditas lainnya, gula pasir kualitas premium berada di level Rp20.550 per kilogram, sedangkan gula pasir lokal mencapai Rp19.100 per kilogram.

Harga minyak goreng curah tercatat Rp20.250 per liter.

Minyak goreng kemasan bermerek I berada di kisaran Rp24.250 per liter dan kemasan bermerek II Rp23.500 per liter.

PIHPS menjelaskan harga nasional merupakan rata-rata harga komoditas dari seluruh pedagang yang menjadi sampel survei.

Karena itu, harga di setiap provinsi, kabupaten, kota, maupun pasar dapat berbeda mengikuti pasokan dan kondisi distribusi setempat.

Menanggapi dinamika harga cabai, Kepala Badan Pangan Nasional sekaligus Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman sebelumnya menyebut distribusi dapat menjadi salah satu faktor yang memengaruhi harga di tingkat konsumen.

“Seperti cabai agak tinggi mungkin karena distribusi,” kata Amran dalam keterangan resmi beberapa waktu lalu.

Pernyataan itu tidak disampaikan secara khusus untuk menanggapi harga cabai rawit merah pada Kamis ini.

Namun, penjelasan tersebut memberikan gambaran mengenai salah satu faktor yang dapat memicu perbedaan harga cabai antara daerah produksi dan pasar konsumen.

Amran mengatakan harga cabai dapat berfluktuasi cukup tajam.

Pada periode tertentu, harga di tingkat konsumen dapat meningkat, tetapi pada saat panen melimpah harga di tingkat petani juga berpotensi turun drastis.

Karena itu, pemerintah tidak hanya mempertimbangkan keterjangkauan harga bagi konsumen, tetapi juga berupaya menjaga agar petani tetap memperoleh harga yang wajar untuk menutup biaya produksi.

Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Badan Pangan Nasional I Gusti Ketut Astawa mengatakan pemerintah berupaya menjaga keseimbangan harga dari tingkat produsen hingga konsumen.

“Kita mengupayakan penstabilan harga. Artinya jangan terlalu murah, kita sepakat ke arah yang wajar, sehingga harga nyaman bagi petani,” kata Ketut dalam keterangan yang sama.

Badan Pangan Nasional bersama Kementerian Pertanian dan asosiasi produsen juga melakukan koordinasi untuk memantau pasokan serta harga cabai di daerah.

Mobilisasi pasokan dari wilayah yang mengalami surplus dapat dilakukan untuk membantu daerah dengan ketersediaan terbatas.

PIHPS merupakan sistem informasi harga pangan yang mencakup beras, cabai, bawang, telur, daging, gula, dan minyak goreng.

Bank Indonesia menyebut sistem tersebut digunakan untuk menghimpun serta menyebarluaskan informasi harga pangan strategis dari seluruh provinsi.

Data dalam PIHPS diperbarui secara berkala sehingga angka harga masih dapat mengalami perubahan.

Masyarakat juga perlu membandingkan data nasional dengan harga aktual di pasar masing-masing daerah.

Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *