Palopo – Wali Kota Palopo, Naili Trisal, bersama Wakil Wali Kota, Akhmad Syarifudin, menghadiri prosesi Tudang Ade’ atau musyawarah adat.
Kegiatan ini merupakan rangkaian utama peringatan Hari Jadi Luwu (HJL) ke-758 dan Hari Perlawanan Rakyat Luwu (HPRL) ke-80 Tahun 2026.
Prosesi sakral yang mempertemukan unsur pemerintah dan pemangku adat ini dilaksanakan di SalassaE, Istana Kedatuan Luwu, pada Rabu (21/1/2026).
Tudang Ade’ dimaknai bukan sekadar seremoni adat semata, melainkan sebuah forum strategis untuk merumuskan langkah bersama demi kesejahteraan masyarakat Tana Luwu di masa depan.
Dalam kesempatannya, Wali Kota Palopo, Hj. Naili Trisal, menekankan pentingnya sinergi antara nilai kultural dan kebijakan pemerintah.
“Kami memandang Tudang Ade’ ini sebagai wadah perekat yang luar biasa. Pemerintah Kota Palopo berkomitmen penuh untuk berjalan beriringan dengan Kedatuan Luwu. Nilai-nilai budaya bukan penghambat modernisasi, justru menjadi fondasi agar pembangunan kita tidak kehilangan identitas,” ungkap Naili Trisal di sela-sela kegiatan.
Kegiatan tersebut dihadiri oleh perangkat adat Dewan Adat 12 Kedatuan Luwu, para tokoh adat, tokoh masyarakat, serta perwakilan pemerintah daerah dari seluruh wilayah Tana Luwu dan Kabupaten Kolaka Utara.
Tampak pula hadir perwakilan Forum Silaturrahmi Keraton Nusantara (FSKN) serta Kerukunan Keluarga Luwu Raya (KKLR) se-Indonesia.
Senada dengan Wali Kota, Datu Luwu ke-40, Andi Maradang Mackulau, mengingatkan seluruh peserta musyawarah akan pentingnya persatuan Wija To Luwu.
“Jangan jadikan perbedaan wilayah administrasi sebagai sekat. Spirit perjuangan Andi Jemma dan para pahlawan Luwu harus kita serap. Mari kita duduk bersama, sipakalebbi, merumuskan hal-hal besar untuk kemajuan Tana Luwu Raya,” tegas Datu Luwu dalam arahan adatnya.
Sejumlah agenda penting dibahas dalam musyawarah ini. Di antaranya adalah penguatan nilai budaya melalui pelestarian tradisi Maddararing sebagai landasan pengambilan keputusan adat.
Selain itu, dibahas pula penguatan sinergi antarwilayah untuk mempererat silaturahmi antara Kabupaten Luwu, Luwu Utara, Luwu Timur, Kota Palopo, hingga wilayah tetangga seperti Kolaka Utara.
Sementara itu, puncak peringatan HJL ke-758 dan HPRL ke-80 dijadwalkan akan diisi dengan prosesi Makkasawiang / Mabbalisumange dan Mappangolo Lise Rakki. Prosesi ini berupa penyerahan isi rakki ke hadapan Datu Luwu oleh perwakilan daerah.
Rangkaian kegiatan lainnya yang akan digelar adalah Manre Saperra, yakni makan bersama di atas bentangan kain panjang sebagai simbol kesetaraan dan pelepasan nazar.
Seluruh rangkaian perayaan akan ditutup dengan Malam Puncak Peringatan HJL dan HPRL melalui gelaran Anugerah Budaya Luwu 2026 di halaman Istana Kedatuan Luwu.





