Nasional – Para pekerja media sering kali menjadi garda terdepan yang paling ditakuti dalam sebuah konflik bersenjata, tak terkecuali bagi militer Israel yang berupaya memonopoli narasi perang.
Fakta ini terungkap kuat dari kesaksian para jurnalis Indonesia yang tergabung dalam misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla (GSF) 2.0 saat hadir di channel YouTube Deddy Corbuzier dalam episode podcast berjudul “FLOTILLA‼️ Dan mereka meny1k5a kami untuk senang2 Om!! Gini ceritanya..”.
Dalam upaya menyalurkan bantuan ke Gaza, mereka tidak sekadar membawa logistik fisik, tetapi juga memikul tanggung jawab besar untuk membongkar kejahatan kemanusiaan yang berusaha ditutupi oleh Israel.
Kehadiran awak media di atas kapal flotilla rupanya menjadi ancaman serius bagi otoritas Israel.
Hal ini terbukti dari tindakan represif militer Israel yang langsung melucuti dan membuang seluruh peralatan dokumentasi milik para jurnalis sesaat setelah kapal diintersepsi.
Namun, perampasan instrumen kerja tersebut tidak menyurutkan tekad mereka untuk merekam jejak kekejaman.
“Semua alat yang kita bawa… Itu akan dibuang gitu… Kamera dan lain-lain lah… Ketika alat itu dibuang… Otomatis kan… Yang hanya… Yang kita… Bisa andalkan itu indera ya,” jelas Todi menceritakan siasatnya untuk tetap merekam kondisi penjara dan perlakuan penyiksaan ke dalam ingatannya.
Menjadi saksi hidup atas penderitaan yang terjadi adalah panggilan jiwa yang mengalahkan rasa takut. Mengabarkan kebenaran diyakini sebagai tugas mutlak, terlebih ketika banyak pihak meragukan laporan-laporan perlakuan tidak manusiawi di dalam penjara Israel.
“Ketika saya ada di situ dan saya merasakan, artinya kan itu fakta yang sudah tidak bisa dibantah gitu. Kalau misalkan masih tidak percaya terhadap jurnalis, terus mau percaya ke siapa gitu,” tegas Todi.
Risiko kematian bagi seorang wartawan di wilayah konflik tersebut sangatlah nyata, mengingat hingga kini diperkirakan ada sekitar 300 jurnalis yang gugur di Gaza.
Ustaz Felix, yang turut hadir dalam siniar tersebut, juga menyoroti pernyataan tajam mengenai alasan militer Israel sangat membidik dan merepresi para jurnalis.
“Kalau wartawan sudah menjadi musuh kalian, berarti musuh kalian sebenarnya bukan siapapun kecuali kebenaran,” ucap Ustaz Felix mengutip sebuah pepatah. Penahanan dan penyiksaan yang mereka alami menjadi bukti konkret betapa takutnya Israel jika fakta-fakta kebiadaban mereka tersebar luas menembus batas negara.
Beruntung, tekad kuat para pembawa pesan kebenaran ini berakhir dengan kepulangan yang selamat ke tanah air.
Suasana haru dan penuh rasa syukur mewarnai kepulangan sembilan warga negara Indonesia yang tergabung dalam misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla 2.0. Melalui organisasi Global Peace Convoy Indonesia, para relawan tersebut akhirnya berhasil mendarat dengan selamat di Tanah Air pada Minggu (24/05/2026) sekitar pukul 15.30 WIB, setelah sebelumnya sempat ditahan oleh militer Israel.
Insiden penahanan bermula ketika kapal yang ditumpangi kesembilan warga negara Indonesia tersebut diintersepsi secara sepihak oleh pasukan Israel.
Pencegatan itu terjadi di kawasan perairan Siprus, Mediterania Timur, pada Senin (18/05/2026). Para relawan kemanusiaan itu kemudian dibawa paksa dan ditahan di kota Ashdod, Israel.
Pemerintah Indonesia merespons situasi krisis tersebut dengan langsung bergerak cepat.
Setelah melalui serangkaian langkah diplomatik dan kekonsuleran yang intensif, bekerja sama dengan berbagai pihak termasuk perwakilan GSF dan Global Peace Convoy Indonesia, kesembilan warga negara Indonesia tersebut akhirnya berhasil dibebaskan pada Kamis (21/05/2026).
Sebelum diterbangkan kembali ke Indonesia, mereka terlebih dahulu difasilitasi untuk menjalani pemeriksaan kesehatan secara menyeluruh di Istanbul, Turki.
Kedatangan para pahlawan kemanusiaan ini disambut langsung oleh Menteri Luar Negeri Sugiono. “Kami mengucapkan selamat datang kembali ke Tanah Air dan selamat berkumpul bersama keluarga,” sambut Sugiono.
Sugiono lebih lanjut menegaskan bahwa keberhasilan evakuasi dan pembebasan para relawan ini merupakan buah dari kerja keras serta koordinasi lintas batas yang dilakukan oleh Pemerintah Indonesia secara berlapis.
Ia menjelaskan bahwa Kementerian Luar Negeri melalui Direktorat Pelindungan Warga Negara Indonesia terus mengoptimalkan jalur diplomasi dengan mengerahkan lima perwakilan di kawasan strategis, yakni KBRI Ankara, KJRI Istanbul, KBRI Amman, KBRI Kairo, dan KBRI Roma.
Menlu turut menyampaikan apresiasi yang mendalam kepada Pemerintah Turki atas peran aktif dan dukungannya dalam memfasilitasi proses transisi pembebasan para relawan Indonesia dalam kesempatan tersebut.
Keberhasilan ini kembali menjadi bukti nyata kehadiran negara dalam memberikan perlindungan maksimal bagi setiap warga negaranya yang sedang mengemban tugas di luar negeri, sekaligus memberikan kepastian bagi keluarga yang menanti cemas di Tanah Air.
Pemerintah Indonesia sebagai penutup kembali menegaskan kecaman kerasnya atas tindakan pencegatan kapal sipil di perairan internasional serta perlakuan tidak manusiawi yang diterima para relawan selama masa penahanan oleh militer Israel.
Aksi sewenang-wenang yang merendahkan martabat warga sipil pembawa misi kemanusiaan tersebut dinilai sebagai pelanggaran nyata terhadap hukum internasional dan hukum humaniter yang tidak dapat ditoleransi dalam keadaan apa pun.








