Internasional – Gelombang panas yang luar biasa ekstrem kini tengah memanggang sebagian besar wilayah Benua Eropa.
Temperatur udara yang secara konsisten menembus ambang 40 derajat Celsius telah melumpuhkan aktivitas publik, membebani jaringan listrik, serta memicu lonjakan panggilan darurat medis yang membuat kapasitas rumah sakit di berbagai negara berada dalam kondisi sangat kritis.
Menyikapi krisis berskala benua ini, Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Tedros Adhanom Ghebreyesus, membunyikan alarm peringatan keras melalui akun media sosial X pribadinya.
Ia membeberkan betapa rapuhnya kondisi kawasan tersebut saat dihantam cuaca yang sangat menyengat.
“Eropa adalah benua dengan pemanasan tercepat di Bumi, memanas dua kali lipat dari rata-rata global. Saat ini 150 juta orang hidup di bawah cuaca panas ekstrem, ratusan orang meninggal, sekolah-sekolah ditutup, jaringan listrik kewalahan,” ungkap Tedros membuka pernyataannya.
Bencana yang terus berulang ini sejatinya bukanlah hal yang sepenuhnya mengejutkan bagi para ahli iklim.
Tedros menegaskan bahwa anomali cuaca tersebut adalah imbas langsung dari kerusakan lingkungan global.
“Terdorong oleh perubahan iklim dan pemanasan global, fenomena gelombang panas ‘sekali dalam satu generasi’ kini terjadi hampir setiap tahun. Kita sudah diperingatkan,” lanjut Tedros menyoroti rutinitas cuaca ekstrem tersebut.
Dampak fatal dari krisis iklim ini mulai terlihat jelas dari angka mortalitas.
Tercatat lebih dari 1.300 kematian berlebih di seluruh Eropa terhitung sejak Jumat (21/06/2026).
Di Prancis saja, Otoritas Kesehatan Publik mendata sekitar 1.000 kematian tambahan, di mana 85 persen korbannya adalah kelompok lanjut usia.
Sementara itu, Sistem Pemantauan Kematian Harian Spanyol mencatat lonjakan lebih dari 400 kasus kematian yang diduga kuat memiliki korelasi langsung dengan paparan suhu panas.
Mengingat struktur bangunan di kawasan tersebut tidak dirancang untuk menahan gempuran iklim tropis, Tedros menyebut fenomena ini sebagai ancaman yang mematikan.
“Lebih dari 1300 kematian berlebih telah tercatat sejak 21 Juni terkait dengan suhu tinggi di Eropa. Tekanan panas sering disebut sebagai ‘pembunuh senyap’ – dan rumah, tempat kerja, serta sekolah di Eropa tidak dibangun untuk menghadapi suhu ini,” papar pucuk pimpinan WHO tersebut.
Kepanikan warga yang berbondong-bondong memadati sungai dan kanal untuk mencari kesejukan justru memicu bencana baru.
Menteri Dalam Negeri Prancis, Laurent Nuñez, mengungkapkan bahwa 74 orang tewas tenggelam sejak dimulainya gelombang panas, karena nekat berenang di perairan yang tidak dijaga.
Salah satu insiden memilukan adalah kematian Kenzo Kies (21), seorang pesepak bola dari klub Ligue 2, Guingamp, yang meregang nyawa akibat tenggelam di Sungai Rhône.
Insiden serupa terjadi di Jerman, di mana kepolisian Berlin mencatat setidaknya tujuh kasus tewas tenggelam selama periode akhir pekan.
Bencana cuaca ini secara berturut-turut memecahkan rekor temperatur historis di penjuru benua, seperti Jerman (41,7°C), Republik Ceko (41,1°C), Hungaria (40,7°C), dan Polandia (40,5°C).
Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) dan para ilmuwan menyimpulkan bahwa krisis ini dipicu oleh efek “kubah panas” atau omega block, yang menekan udara panas ke bawah, mengeringkan awan, dan membiarkan sengatan matahari memanggang daratan.
Kondisi tersebut diperburuk dengan minimnya penurunan suhu saat malam hari, membuat tubuh manusia tidak memiliki waktu untuk memulihkan diri.
Sebagai langkah antisipatif ke depannya, WHO mendesak seluruh pemangku kebijakan untuk segera merumuskan protokol darurat yang komprehensif.
“WHO bekerja sama dengan Negara Anggota dan para mitranya untuk mengatasi ancaman kesehatan yang ditimbulkan oleh panas ekstrem melalui fokus pada kesiapsiagaan, pencegahan, dan respons sistem kesehatan yang lebih kuat. Secara khusus, kami mendorong negara-negara Eropa untuk menerapkan rencana aksi kesehatan terkait panas, sebagai bagian dari agenda yang lebih luas untuk melindungi kesehatan dari perubahan iklim,” pungkas Tedros menutup imbauannya.



