Ragam – Fenomena munculnya tokoh-tokoh yang melontarkan pernyataan absurd dan tak masuk akal, seperti kasus Mama Ghufron baru-baru ini, terus menjadi sorotan publik.

Alih-alih diabaikan, tokoh semacam ini justru kerap mendapatkan pengikut setia.

Hal ini memantik perhatian pendakwah Felix Siauw yang menilai fenomena tersebut merupakan indikasi nyata hilangnya nalar kritis di tengah masyarakat.

Kritik tajam mengenai kondisi sosial ini diuraikan secara mendalam pada tayangan terbarunya di hari rabu (20/05/2026), di mana ia membedah masalah ini dari tiga tingkatan utama: individu, masyarakat, dan negara.

Menurutnya, akar dari mudahnya orang mempercayai klaim irasional, seperti mengaku penjaga gawang neraka atau bisa berkomunikasi langsung dengan malaikat, adalah keengganan untuk berpikir.

Secara psikologis, manusia memiliki kecenderungan untuk mengisi ketidaktahuan dengan sebuah jawaban instan.

Sayangnya, banyak yang memilih jalan pintas alih-alih menggunakan logika dan argumen.

“Kenapa fenomena kayak gini bisa terjadi? Jawabannya sederhana: karena individu-individu yang ada di situ kehilangan daya berpikir kritis, atau bahkan tidak memiliki daya berpikir kritis sama sekali,” tegas Felix Siauw dalam pemaparannya.

Sering kali, masyarakat menggunakan agama atau istilah mistis sebagai mekanisme pertahanan diri (coping mechanism) yang instan saat dihadapkan pada hal yang tidak dipahami.

Ia mencontohkan, ketika sebuah bangunan runtuh karena kegagalan konstruksi, banyak yang langsung menyalahkan takdir tanpa mau menganalisis secara teknis ilmu sipil. Ironisnya, agama kerap dikambinghitamkan.

Padahal, ia mengingatkan bahwa Islam sejak awal menuntut umatnya untuk menggunakan akal, sebagaimana dicontohkan oleh nalar kritis Nabi Ibrahim saat berhadapan dengan penyembah berhala.

Selain faktor individu, lingkungan masyarakat berperan besar membesarkan fenomena ini melalui mentalitas kerumunan (mob mentality).

Ketika sebuah hal absurd mendapat sorotan masif dan diamini oleh sekelompok orang, individu lain yang kurang terdidik cenderung ikut-ikutan dan menganggapnya sebagai sebuah kebenaran.

Felix menggarisbawahi dampak negatif dari konektivitas digital yang tidak dibarengi kecerdasan literasi.

Mengutip sebuah ungkapan, ia menyebut bahwa hal terburuk yang dilakukan internet adalah membuat orang-orang bodoh terkoneksi.

Akibatnya, terjadilah efek bola salju di mana kesesatan berpikir justru semakin tervalidasi.

“Oleh karena itu, jamaah atau komunitas tolong berhentilah memberikan panggung. Jangan dilindungi, jangan di-publish. Cancel aja, nggak usah diobrolin,” imbau Felix kepada publik agar tidak lagi menyuburkan industri kebodohan.

Pada tingkat yang paling krusial, Felix menyoroti dan menyayangkan adanya keterlibatan oknum pejabat atau negara yang justru memberi ruang bagi tokoh-tokoh bermasalah.

Alih-alih menertibkan atau merehabilitasi individu yang jelas-jelas menyimpang secara nalar, terkadang ada pihak berwenang yang malah memberikan apresiasi, dukungan, hingga bantuan dana.

Langkah fatal ini secara tidak langsung memberikan legitimasi bagi tokoh-tokoh absurd tersebut, yang acap kali mendistraksi rakyat dari isu-isu yang jauh lebih substansial.

Negara seharusnya hadir untuk memfasilitasi pendidikan dan kecerdasan rakyat, bukan malah ikut-ikutan menormalisasi hal yang membuat rasionalitas bangsa dipertanyakan.

Di akhir pesannya, ia menegaskan bahwa agama diturunkan untuk merombak cara berpikir yang negatif dan menumbuhkan nalar yang sehat.

Solusi dari masalah ini membutuhkan sinergi dari para pendidik untuk terus melatih logika, kebiasaan masyarakat untuk tidak memviralkan hal irasional, serta pemimpin yang peduli pada kecerdasan literasi rakyatnya.

Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *