Nasional – Sebuah rekaman video yang memperlihatkan penampilan panggung sejumlah mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) belakangan ini memicu kemarahan warganet.
Dalam tayangan yang beredar luas di media sosial tersebut, kelompok yang tergabung dalam Orkes Semi Dangdut (OSD) di bawah naungan Himpunan Mahasiswa Tambang (HMT) ITB tampak menyanyikan lagu dengan lirik saru yang sarat akan nuansa pelecehan seksual terhadap perempuan.
Konser yang mengusung tema dangdut dan cinta itu menampilkan mahasiswa dan mahasiswi bernyanyi diiringi sorak-sorai riuh dari para penonton yang hadir.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, lagu yang memicu kontroversi tersebut berjudul ‘Erika’, yang narasi liriknya dinilai merendahkan martabat perempuan dan menyinggung status janda.
Ironisnya, tembang tak senonoh ini tidak hanya dinyanyikan di panggung, tetapi jejak digitalnya juga telah bertengger di platform musik seperti Spotify dan Apple Music sejak tahun 2020 silam.
Kegaduhan ini muncul di tengah tingginya sorotan masyarakat terhadap isu kekerasan seksual verbal di lingkup kampus, menyusul kasus serupa yang melibatkan 16 mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FHUI) baru-baru ini.
Tak lama berselang, sebuah pernyataan tertulis akhirnya dirilis dan dimuat melalui situs web resmi ITB pada Rabu (15/04/2026).
Dalam rilis tersebut, HMT-ITB mengakui kesalahan mereka dan meminta maaf kepada publik.
Mereka menjelaskan bahwa OSD telah berdiri sejak era 1970-an, sedangkan lagu ‘Erika’ sendiri diciptakan pada dekade 1980-an.
Pihak himpunan menyadari bahwa tetap menampilkan lagu tersebut di tengah perkembangan norma kesusilaan masyarakat saat ini merupakan sebuah kelalaian besar.
“Kami menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya atas beredarnya lagu yang menimbulkan keresahan publik. Kami sangat memahami dan menyadari sensitivitas isu ini dan menyampaikan keprihatinan serta empati kepada masyarakat, khususnya perempuan,” tulis pernyataan resmi tersebut.
HMT-ITB juga menegaskan komitmen mereka untuk menolak segala bentuk tindakan tak senonoh di lingkungan pendidikan tinggi.
“Kami dengan tegas mengakui bahwa konten dalam penampilan tersebut tidak mencerminkan nilai-nilai yang seharusnya dijunjung oleh lingkungan akademik dan organisasi kemahasiswaan. HMT-ITB dengan tegas menyatakan bahwa kami tidak membenarkan segala bentuk tindakan yang merendahkan martabat individu atau kelompok manapun,” sambung pernyataan resmi tersebut.
Sebagai langkah perbaikan, pihak HMT-ITB telah berkoordinasi dengan otoritas terkait untuk membersihkan seluruh rekam jejak lagu tersebut.
Proses penurunan (take down) konten video maupun audio dari kanal resmi himpunan serta penghapusan dari akun-akun individu yang terafiliasi, termasuk rekaman lawas dari tahun 2020, tengah dilakukan secara menyeluruh.
“Kami melakukan evaluasi internal secara komprehensif terhadap konten, pelaksanaan, serta pengawasan kegiatan atas lagu terkait dan lagu yang mengandung unsur serupa, serta meninjau kembali standar dan pedoman kegiatan organisasi agar selaras dengan nilai-nilai etika yang berkembang di lingkungan Kampus ITB dan dalam masyarakat. Bandung, 15 April 2026 Himpunan Mahasiswa Tambang ITB,” pungkas pernyataan resmi tersebut.





