Kemenkes mencatat 333.470 kasus ISPA akibat karhutla, dengan 75.172 di antaranya menyerang balita. Pemerintah siagakan fasilitas kesehatan di tujuh provinsi terdampak.

Nasional – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda sejumlah wilayah Indonesia berdampak serius terhadap kesehatan masyarakat.

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat 75.172 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) pada balita di wilayah terdampak kabut asap.

Jumlah tersebut merupakan bagian dari 333.470 kasus ISPA yang dihimpun Kemenkes sepanjang 18 Agustus hingga 21 Oktober 2026.

Berdasarkan pembaruan data Kemenkes yang dipaparkan pada Kamis (22/10/2026), kasus ISPA tersebut tercatat di 68 kabupaten/kota yang tersebar di tujuh provinsi terdampak karhutla.

Ketujuh provinsi tersebut meliputi Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur.

Direktur Kesehatan Lingkungan Kemenkes, Then Suyanti, mengatakan jumlah kasus ISPA masih menjadi perhatian karena tingginya risiko gangguan pernapasan pada masyarakat yang terpapar kabut asap.

“Saat ini kondisi ISPA di wilayah terdampak secara kumulatif mencapai 333.470 kasus,” kata Then Suyanti dalam acara Info Bencana Terkini, sebagaimana dikutip dari NU Online, Jumat (23/10/2026).

Dari total kasus tersebut, sebanyak 258.298 kasus tercatat pada kelompok usia di atas lima tahun.

Sementara itu, 75.172 kasus lainnya dialami balita.

Kemenkes juga mencatat 4.522 kasus ISPA dalam laporan harian pada Rabu (21/10/2026).

Tingginya jumlah kasus pada kelompok balita menjadi perhatian karena anak-anak termasuk kelompok rentan terhadap pencemaran udara.

Menurut Kemenkes, asap karhutla mengandung partikel halus PM2,5, karbon monoksida, nitrogen dioksida, serta sejumlah senyawa organik yang dapat membahayakan kesehatan.

Paparan polutan tersebut berisiko memicu gangguan saluran pernapasan, memperburuk asma dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), serta menyebabkan iritasi mata dan kulit.

Kondisi kualitas udara di sejumlah daerah juga masih berada pada kategori berbahaya.

Kemenkes melaporkan tujuh kabupaten/kota di Kalimantan Tengah masuk kategori tersebut berdasarkan pemantauan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU).

Selain Kalimantan Tengah, wilayah dengan kualitas udara berbahaya juga terpantau di sejumlah daerah Sumatera Selatan, Jambi, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Timur.

Menghadapi meningkatnya gangguan kesehatan akibat kabut asap, pemerintah menyiagakan berbagai fasilitas pelayanan kesehatan di wilayah terdampak.

Kemenkes melaporkan sebanyak 1.691 puskesmas, 360 rumah sakit rujukan, dan 87 laboratorium kesehatan masyarakat disiapkan untuk mendukung pelayanan kesehatan.

Pemerintah daerah juga menyediakan 491 titik rumah oksigen yang dapat dimanfaatkan masyarakat yang mengalami keluhan pernapasan dan membutuhkan pemeriksaan serta pertolongan medis.

Selain memperkuat layanan kesehatan, pemerintah melakukan pembagian masker, pemantauan kualitas udara, dan edukasi untuk mengurangi risiko paparan asap.

Kemenkes mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk, menggunakan masker yang sesuai, serta segera mendatangi fasilitas kesehatan apabila mengalami sesak napas atau keluhan pernapasan yang semakin berat.

Tingginya kasus ISPA pada anak-anak turut mendapat perhatian Ketua DPR RI Puan Maharani.

Melalui keterangan yang dipublikasikan dalam laman resmi DPR RI, Puan meminta pemerintah memprioritaskan keselamatan anak dan memastikan layanan kesehatan tetap tersedia bagi keluarga terdampak.

“Perlindungan anak dari kabut asap yang ditimbulkan Karhutla harus menjadi komitmen nasional,” kata Puan dalam keterangan tertulisnya, Rabu (21/10/2026).

Puan juga mengingatkan bahwa penanganan dampak karhutla tidak boleh berhenti setelah kondisi udara membaik.

Menurutnya, kebutuhan kesehatan anak harus tetap mendapat perhatian selama masa pemulihan, termasuk bagi keluarga yang memiliki keterbatasan dalam mengakses layanan kesehatan.

Sementara itu, Deputi Bidang Koordinasi Penanggulangan Bencana dan Konflik Sosial Kemenko PMK, Lilik Kurniawan, sebelumnya mengingatkan pentingnya penanganan karhutla secara menyeluruh.

“Penanganan karhutla tidak boleh hanya berfokus pada pemadaman api, tetapi juga harus memastikan masyarakat terlindungi dari dampak asap,” ujar Lilik, dikutip dari keterangan resmi Kemenko PMK.

Pemerintah turut membahas penyediaan tempat aman sementara bagi kelompok rentan serta penyesuaian kegiatan belajar berdasarkan kondisi kualitas udara di masing-masing daerah.

Meski sejumlah wilayah menunjukkan penurunan kasus harian dibandingkan puncak gangguan kesehatan pada September, tingginya angka kumulatif ISPA menunjukkan besarnya kebutuhan perlindungan dan pelayanan kesehatan di daerah terdampak karhutla.

Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *