Nasional – Praktik kecurangan berskala masif di sektor ekspor minyak sawit mentah (CPO) sukses dibongkar oleh pemerintah.

Sosok penting di balik pengungkapan ini, Purbaya Yudhi Sadewa, menyatakan bahwa pihaknya telah mengantongi bukti kuat terkait dugaan manipulasi harga atau under invoicing yang dilakukan oleh sepuluh perusahaan eksportir raksasa.

Hal mengejutkan tersebut disampaikannya secara langsung kepada awak media saat berada di kompleks DPR/MPR pada Senin (25/05/2026).

Penemuan kejahatan finansial berkedok transfer pricing ini bermula dari penelusuran acak terhadap tiga dokumen pengapalan ekspor. Ia menyimpulkan bahwa kejahatan ini sangat mungkin terjadi secara masif di seluruh transaksi.

“Saya ambil 10 terbesar, semuanya melakukan hal itu. Jadi boleh dipastikan semuanya melakukan hal itu. Jadinya saya random,” ungkap Purbaya Yudhi Sadewa menjelaskan metode temuannya.

Modus operandi yang digunakan eksportir nakal ini sangat terstruktur, di mana komoditas seolah dijual murah ke perusahaan cangkang (trading company) milik mereka sendiri di Singapura sebelum diteruskan ke negara tujuan dengan harga sebenarnya.

“Kirim ke Singapura, pakai perusahaan trading, mana perusahaannya dia sendiri. Dari sini ke sana, ke tujuannya dengan harga yang dua kali lipat atau lebih. Ada yang 200 persen, ada yang 4 kali lipat. Jadi gitu,” jelasnya merinci skema akal-akalan tersebut.

Detail mengenai kecurangan ini sebelumnya juga sempat dipaparkan Purbaya di kawasan Istana Negara pada Jumat (22/05/2026).

Ia memberi gambaran nyata bagaimana harga barang yang diekspor sengaja ditekan serendah mungkin untuk menghindari beban pungutan dalam negeri, yang akhirnya menyebabkan hilangnya potensi penerimaan negara.

“Ekspor ke Amerika misalnya, harganya di sini cuma seperempat atau sepertiga apa yang ada di AS. Jadi income-nya rendah kan di sini, jadi saya rugi banyak,” tuturnya menyesalkan kondisi tersebut.

Bahkan, selisih manipulasi harga yang ditemukan Kemenkeu pada beberapa sampel dokumen pengiriman kapal benar-benar terlampau jauh.

“Ada yang lebih gila lagi, satu perusahaan lagi di sini ekspornya 1,44 juta dollar AS, di sana 4 juta dollar AS lebih. Berubah harga 200 persen,” tegas Purbaya mencontohkan bukti kuat investigasinya.

Untuk menindaklanjuti kebocoran triliunan kas negara ini, Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) berkolaborasi dengan Kejaksaan Agung (Kejagung) tengah melakukan penyidikan intensif.

Meski kerugian berpotensi membengkak, pemerintah menegaskan pendekatannya bersifat pembinaan.

“Nanti kalau sudah beres ya, kita enggak akan bunuh perusahaannya. Cuman kita minta mereka melakukan, khususnya yang seharusnya,” ucapnya menjamin keberlangsungan usaha industri sawit.

Langkah tegas pembersihan ini dipastikan tidak akan berhenti pada komoditas CPO saja. Purbaya menegaskan bahwa sasaran investigasi berikutnya adalah sektor pertambangan yang juga diyakini mempraktikkan manipulasi serupa.

“Ini baru CPO, nanti ada batu bara juga,” pungkas Purbaya memberikan peringatan keras kepada eksportir tambang.

Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *