Nasional – Semilir angin laut di pesisir Kelurahan Leato Selatan, Kota Gorontalo, kini tak sekadar membawa aroma asin air laut, melainkan juga secercah harapan baru bagi denyut nadi perekonomian warganya.

Kawasan pesisir yang selama ini identik dengan keterbatasan fasilitas tersebut kini telah bersalin rupa menjadi Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP).

Perubahan besar ini semakin terasa maknanya saat Presiden Prabowo Subianto menyempatkan diri hadir meninjau langsung kawasan perikanan seluas 3.895 meter persegi tersebut pada Sabtu (09/05/2026).

Kedatangannya disambut dengan senyum merekah dari ratusan nelayan setempat.

Dalam kunjungannya, Prabowo menegaskan bahwa pemerintahannya tidak akan lagi menutup mata terhadap penderitaan nelayan.

Di hadapan ratusan pelaut tangguh, ia menyampaikan rasa hormatnya.

“Saya mengerti nelayan itu memiliki risiko yang besar. Di laut itu tidak main-main. Cuaca bisa berubah, arus bisa berubah. Saudara mempertaruhkan nyawa untuk mencari makan untuk keluargamu, untuk masyarakatmu, untuk bangsamu. Saya terima kasih,” ujarnya.

Ia menyadari bahwa pahlawan protein bangsa ini kerap terpinggirkan.

“Untuk itu saya bertekad untuk memperbaiki dan menghormati para nelayan-nelayan kita di seluruh Indonesia. Para nelayan sering dilupakan,” tegas Prabowo.

Suasana keakraban langsung terjalin saat Prabowo menyusuri area shelter pelabuhan dan berbincang dengan para nelayan yang tengah sibuk menyortir ikan cakalang dan tuna dari atas kapalnya.

Salah seorang nelayan, Acon Karim, mengaku sangat gembira bisa berdialog secara langsung dengan orang nomor satu di Indonesia tersebut.

“Tanya kalau berapa anggota kapal. Dia (Presiden) tanya bahan minyak, jauh atau engga,” ujar Acon antusias. “Terima kasih, Pak Presiden, sudah datang di Pelabuhan Merah Putih.”

Rasa syukur yang sama juga diungkapkan oleh nelayan lainnya, Brawijaya Kadullah.

“Yang terutama itu terima kasih banyak kepada Bapak Presiden kita, Bapak Prabowo Subianto, yang telah menyediakan tempat fasilitas Koperasi Nelayan Merah Putih,” ucapnya.

Bagi warga setempat, keberadaan fasilitas terpadu ini bagaikan oase di tengah gurun.

Suhardi Darisse, seorang tokoh nelayan yang telah puluhan tahun menggantungkan nasib di laut, mengungkapkan betapa mudahnya kini mereka memperoleh es balok, kebutuhan paling vital untuk menjaga kualitas ikan.

“Kami ini sudah merasa terbantu. Terutama es, yang kemarin membutuhkan es masih menggunakan transportasi biaya, ibu. Sekarang enggak, mobilnya di sini diantar dengan kendaraan. Kemudian harganya di bawah yang di kota ada 13 ribu (rupiah) per balok, di sini 6.500 (rupiah). Jadi baru di situ saja bu sudah terbantu kita nelayan,” ungkap Suhardi terharu. Ia menambahkan bahwa dalam semalam, satu unit kapal bisa menghabiskan hingga 50 balok es.

Ketua Koperasi Kelurahan Merah Putih, Abdul Rahman Lamusu, membenarkan hal tersebut.

Sebelumnya, nelayan harus menempuh jarak 8 hingga 10 kilometer demi sebalok es. Kini, kawasan mereka sudah menjelma menjadi pusat perikanan mandiri yang dilengkapi bengkel, kios perbekalan, gudang beku ikan, hingga tempat perbaikan jaring.

“Ini memang program Bapak Presiden melalui Koperasi Kelurahan Merah Putih yang akan mengelola Kampung Nelayan Merah Putih tersebut,” jelas Abdul Rahman.

Melihat potensi laut yang melimpah, Prabowo menggaungkan konsep Ekonomi Biru sebagai ujung tombak kemandirian bangsa ke depannya.

“Karena itu, pemerintah yang saya pimpin, kita akan besar-besaran mengembangkan perikanan dan kelautan. Istilah kita sekarang adalah ekonomi biru, ekonomi laut biru, the blue ocean economy. The blue ocean economy ini adalah sangat penting, ini adalah karunia yang maha kuasa, kita harus bersyukur dan kita harus sekarang besar-besaran investasi,” paparnya dengan penuh semangat.

Tak sekadar berorasi, Prabowo membawa janji nyata yang siap direalisasikan tahun ini. Ia memastikan bahwa sumber daya alam Indonesia tidak boleh lagi dinikmati oleh kapal asing.

“Kita akan bangun mulai tahun ini 1.582 kapal ikan. Nanti kita akan bantu, kita akan bagi kapal-kapal itu. Nanti bapak-bapak nelayan dengan keluarganya bikin koperasi. Nanti akan diatur apakah 30 nelayan satu koperasi atau 30, nanti kita beri kapal. Kapal ada yang kecil, ada yang menengah, dan ada yang kapal-kapal besar. Kita ingin bukan kapal asing yang ambil ikan di laut kita, kita ingin rakyat kita yang mengambil,” bebernya.

Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *