Islam – Di tengah zaman yang semakin akrab dengan manipulasi, pemalsuan data, dan pengkhianatan amanah, nama seorang ulama yang hidup dua belas abad silam terasa semakin relevan untuk dihadirkan kembali.

Ia adalah Abu Abdillah Muhammad ibn Ismail al-Bukhari, atau yang kita kenal sebagai Imam Bukhari, penyusun kitab hadis paling sahih setelah Al-Quran, Shahih al-Bukhari.

Hidupnya bukan sekadar perjalanan intelektual yang gemilang, melainkan satu kesaksian panjang bahwa kejujuran dan integritas bukan pilihan, melainkan pondasi yang tidak boleh retak walau sedikit pun.

Imam Bukhari lahir di Bukhara, yang kini menjadi wilayah Uzbekistan, pada Jumat (13/07/194 H) atau bertepatan dengan tahun 810 Masehi.

Ayahnya meninggal ketika ia masih sangat kecil. Sejak masa kanak-kanak, Bukhari kecil tumbuh dalam lingkungan yang haus ilmu.

Pada usia sepuluh tahun, ia sudah mulai menghafal hadis.

Pada usia enam belas tahun, ia sudah menguasai kitab-kitab karya dua ulama besar zamannya, Abdullah ibn al-Mubarak dan Waki’ ibn al-Jarrah, hingga hafal di luar kepala.

Kemudian bersama ibu dan kakaknya, ia berangkat menunaikan haji ke Makkah, dan setelah itu ia memilih menetap bertahun-tahun demi menuntut ilmu.

Yang membuat perjalanan hidup Imam Bukhari begitu luar biasa bukan hanya kecerdasan dan daya hafalnya yang melampaui batas nalar manusia kebanyakan.

Yang jauh lebih mengesankan adalah standar kejujurannya yang tidak pernah ia kompromikan satu milimeter pun, bahkan dalam urusan yang tampaknya sepele di mata orang lain.

Ada sebuah kisah yang sangat terkenal dalam literatur ilmu hadis, diabadikan oleh Imam Adz-Dzahabi dalam Siyar A’lam an-Nubala, yang menggambarkan dengan sempurna bagaimana Imam Bukhari mendefinisikan kejujuran.

Suatu ketika, ia melakukan perjalanan jauh untuk menemui seorang ulama dan mendengar hadis darinya secara langsung.

Ketika ia tiba dan mendekati kediaman ulama tersebut, ia menyaksikan pemandangan yang mengusiknya: sang ulama sedang memanggil kudanya sambil pura-pura mengangkat ujung jubahnya seolah membawa makanan, padahal jubahnya kosong.

Kuda itu pun berlari mendekat karena tertipu.

Imam Bukhari yang menyaksikan adegan itu terdiam. Ia kemudian berbalik pergi tanpa menemui sang ulama sama sekali.

Murid-muridnya yang ikut dalam perjalanan itu heran dan bertanya kepadanya.

“Wahai Imam, bukankah engkau sudah menempuh perjalanan jauh untuk menemui beliau? Mengapa engkau tidak jadi menemuinya?”

Imam Bukhari menjawab dengan tenang namun tegas.

“Ia telah menipu kudanya sendiri. Orang yang berani menipu hewan tidak akan aku jadikan sandaran dalam meriwayatkan sabda Rasulullah SAW.”

Kisah ini bukan sekadar anekdot. Ia adalah jendela menuju cara berpikir Imam Bukhari tentang integritas.

Baginya, kejujuran tidak bisa dikotak-kotakkan.

Seseorang yang bersedia menipu dalam hal kecil yang tidak dilihat siapa pun, tidak layak dipercaya dalam hal besar yang menjadi tanggung jawab publik.

Reputasi Imam Bukhari yang harum sampai ke Baghdad membuat para ulama di sana penasaran sekaligus ingin mengujinya.

Mereka menyiapkan seratus hadis, lalu dengan sengaja menukar-nukar sanadnya, memasangkan matan hadis dengan sanad yang salah dan sebaliknya. Sepuluh ulama kemudian membacakan hadis-hadis yang sudah dikacaukan itu satu per satu kepada Imam Bukhari.

Setiap kali satu hadis dibacakan dengan sanad yang keliru, Imam Bukhari hanya menjawab dengan singkat.

“La a’rifuhu, aku tidak mengenalnya.”

Begitu terus, satu demi satu, hingga seluruh seratus hadis selesai dibacakan.

Para hadirin mulai berbisik-bisik. Sebagian menyangka Imam Bukhari gagal dalam ujian itu karena terus menjawab tidak mengenal.

Namun setelah semua selesai, Imam Bukhari kemudian berdiri dan menyebutkan satu per satu hadis yang telah dikacaukan itu, lengkap dengan sanad yang benar untuk masing-masingnya, tanpa satu pun yang terlewat atau tertukar.

Ruangan itu hening. Para ulama Baghdad yang menyaksikan hal itu terdiam dalam kekaguman yang dalam.

Salah seorang yang hadir menuturkan kemudian, “Kami semua mengakui keunggulan dan kecerdasan beliau.”

Imam Ahmad ibn Hanbal, salah satu ulama terbesar zamannya, ketika mendengar kabar tentang Imam Bukhari, disebut dalam berbagai sumber biografi mengatakan kepada murid-muridnya.

“Pergilah kalian kepada Muhammad ibn Ismail al-Bukhari, karena aku belum pernah melihat orang seperti dia.”

Ujian terberat Imam Bukhari justru datang bukan dari para penentang ilmunya, melainkan dari tekanan kekuasaan.

Ketika ia menetap di Nishapur, perselisihan pendapat dalam masalah teologi berujung pada pengusirannya dari kota itu.

Imam Bukhari kemudian pulang ke Bukhara, tanah kelahirannya. Namun kedamaiannya di sana pun tidak berlangsung lama.

Gubernur Bukhara, Khalid ibn Ahmad al-Dzuhli, mengutus seseorang untuk menyampaikan permintaan kepadanya.

“Gubernur meminta Anda berkenan datang ke istana untuk mengajarkan hadis kepada putra-putranya secara khusus.”

Imam Bukhari menolak dengan tenang namun tegas. Ia menyampaikan jawaban melalui utusan itu.

“Aku tidak akan merendahkan ilmu dengan membawanya ke pintu penguasa. Jika gubernur ingin menimba ilmu, hendaklah ia datang ke masjid seperti kaum muslimin lainnya, atau aku tidak bisa memenuhi permintaannya.”

Jawaban itu membuat sang gubernur murka. Imam Bukhari pun diusir dari Bukhara.

Ia pergi ke Samarkand, lalu singgah di sebuah desa kecil bernama Khartank. Di sinilah, dalam pengasingan yang sunyi jauh dari keramaian kota dan kemewahan istana, sang Imam berpulang ke rahmatullah pada malam Idul Fitri, Sabtu (01/08/256 H), dalam usia 62 tahun.

Murid-murid yang menemaninya di hari-hari terakhir itu meriwayatkan bahwa sebelum wafat, Imam Bukhari sempat berdoa dengan suara lirih.

“Ya Allah, bumi ini telah terasa sempit bagiku dengan segala keluasannya. Maka cabutlah nyawaku.”

Tidak lama setelah doa itu, ia pun berpulang.

Pelajaran yang Teramat Relevan Hari Ini

Apa yang bisa kita petik dari kehidupan Imam Bukhari untuk konteks hari ini? Sangat banyak, tetapi mungkin yang paling mendesak adalah ini: integritas tidak mengenal skala kecil dan besar.

Imam Bukhari mengajarkan bahwa orang yang menipu kudanya sendiri tidak layak dipercaya untuk menyampaikan sabda Nabi.

Dalam logika yang sama, pejabat yang korup dalam hal kecil, memanipulasi absensi, memungut pungutan liar kecil-kecilan, menerima amplop tipis karena sudah biasa, sedang membangun dalam dirinya satu watak yang kelak akan mengkhianati amanah yang jauh lebih besar.

Imam Bukhari juga mengajarkan bahwa ilmu dan jabatan adalah amanah, bukan alat untuk memperindah diri di hadapan penguasa.

Ketika gubernur Bukhara memintanya datang ke istana, Imam Bukhari menolak bukan karena sombong, melainkan karena ia tahu bahwa begitu seorang pemegang amanah mulai menundukkan diri kepada kekuasaan demi kenyamanan, maka tamat sudah integritasnya.

Satu hal lagi yang patut direnungkan: Imam Bukhari tidak meninggalkan warisan berupa kekayaan materi. Ia tidak membangun istana, tidak menitipkan jabatan kepada sanak saudaranya.

Yang ia tinggalkan adalah satu kitab yang hingga hari ini, lebih dari dua belas abad setelah kematiannya, masih dibaca, diajarkan, dan dijadikan pegangan oleh lebih dari satu miliar Muslim di seluruh dunia.

Itulah buah dari kejujuran yang tidak pernah dikompromikan. Itulah yang abadi.

Di zaman ketika kepercayaan publik terhadap pejabat dan institusi terus tergerus oleh satu demi satu kasus pengkhianatan amanah, mungkin inilah saatnya kita kembali duduk sejenak dan bertanya kepada diri sendiri: seberapa jauh kita bersedia berjalan demi sebuah kebenaran, dan seberapa kecil hal yang kita rela jujuri meski tidak ada orang yang melihat?

Imam Bukhari menjawab pertanyaan itu dengan hidupnya.

Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *