Internasional – Dinamika geopolitik dan ekonomi global yang tengah bergejolak menjadi latar belakang pertemuan krusial dua pemimpin negara paling berpengaruh di dunia.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump melangsungkan lawatan kenegaraan untuk bertatap muka secara langsung dengan Presiden China Xi Jinping di Beijing, di mana agenda tingkat tinggi ini berlangsung pada Rabu hingga Kamis (13-14/05/2026).
Kunjungan ini merupakan perjalanan pertama Trump ke Negeri Tirai Bambu sejak November 2017 silam.
Momentum ini dinilai sangat strategis di tengah eskalasi berbagai krisis dunia, mulai dari persaingan kecerdasan buatan (AI), friksi perang dagang, hingga memanasnya konflik militer di kawasan Timur Tengah.
Lawatan Trump kali ini menyedot perhatian publik internasional lantaran ia tidak datang sendirian.
Delegasi Amerika Serikat dipenuhi oleh para petinggi dari perusahaan-perusahaan bernilai triliunan rupiah.
Turut serta dalam penerbangan Air Force One adalah tokoh-tokoh raksasa industri dan teknologi dunia, seperti Elon Musk dari Tesla, Jensen Huang dari Nvidia, serta Tim Cook dari Apple.
Selain ketiga nama besar tersebut, sejumlah pimpinan korporasi multinasional lainnya juga dipastikan hadir, di antaranya Stephen Schwarzman (Blackstone), Kelly Ortberg (Boeing), Larry Fink (Blackrock), Jane Fraser (Citi), Brian Sikes (Cargill), H. Lawarence Culp (GE Aerospace), David Solomon (Goldman Sachs), dan Cristiano Amon (Qualcomm).
Kehadiran mereka menjadi sinyal kuat adanya kepentingan negosiasi ekonomi yang masif antara kedua negara raksasa ini.
Tokoh bisnis dari Citi, Jane Fraser, memberikan pandangannya mengenai urgensi komunikasi antara Washington dan Beijing. Menurutnya, China tetap menjadi pasar yang sangat strategis bagi bisnis global.
“Saya pikir sangat penting melihat adanya keterlibatan antara dua kekuatan ekonomi terbesar dunia. Kita semua membutuhkan keterlibatan itu terus berlangsung,” ungkap Jane Fraser, seperti dikutip dari CNBC.
Meski isu ekonomi dan perdagangan selalu membayangi hubungan bilateral kedua negara, banyak pihak meyakini bahwa agenda utama Trump dalam kunjungan ini adalah membahas krisis geopolitik, khususnya perang yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran sejak akhir Februari 2026 lalu.
AS diperkirakan akan melobi Beijing agar menggunakan pengaruh ekonominya, sebagai pembeli minyak mentah terbesar Iran, guna mendesak Teheran mencapai kesepakatan diplomatik dan membuka kembali akses jalur pelayaran vital di Selat Hormuz.
Spekulasi pun menguat bahwa China dapat memainkan peran kunci sebagai mediator untuk mencegah eskalasi konflik di Asia Barat yang berpotensi melumpuhkan ekonomi global.
Selain isu Timur Tengah, ketegangan terkait kedaulatan Taiwan juga dipastikan masuk dalam meja perundingan.
Tiongkok diketahui sempat mengecam keras kebijakan pemerintahan Trump yang mengesahkan paket penjualan senjata senilai 11 miliar dolar AS (sekitar Rp192,7 triliun) kepada Taiwan pada Desember 2025 lalu.
Kendati dibayangi berbagai polemik kompleks, Donald Trump tetap menunjukkan sikap optimistis menjelang pertemuannya dengan pemimpin Tiongkok tersebut.
Hal ini sejalan dengan komitmen kedua negara untuk menjaga stabilitas global usai pertemuan sukses mereka di Busan, Korea Selatan, pada Oktober 2025 lalu.
Trump menyampaikan keyakinannya terkait prospek hubungannya dengan Xi Jinping.
“Dia adalah sosok yang memiliki hubungan baik dengan kami. Saya pikir Anda akan melihat hal-hal baik akan terjadi. Ini akan menjadi perjalanan yang sangat menarik,” tegas Trump optimis.
Pertemuan kedua raksasa ini diharapkan tidak hanya menguntungkan sektor domestik masing-masing, terutama menjelang perayaan 250 tahun kemerdekaan AS dan pelaksanaan Rencana Lima Tahun ke-15 China, tetapi juga mampu membawa angin segar bagi stabilitas perdamaian dunia.






