Nasional – Bencana alam berskala besar memporak-porandakan wilayah Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara), Provinsi Sumatera Selatan.
Hujan dengan intensitas sangat tinggi yang tiada henti mengguyur wilayah tersebut sejak Kamis (07/05/2026) dini hari telah memicu datangnya air bah yang menyapu belasan ribu hunian penduduk.
Tragedi banjir bandang ini menyisakan duka yang mendalam bagi masyarakat setempat.
Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops-PB) Kabupaten Muratara mengonfirmasi tewasnya seorang balita perempuan bernama Shanum Aqila Fitri yang baru berusia tiga tahun akibat bencana ini.
Selain merenggut korban jiwa, derasnya terjangan air juga menyeret empat unit rumah warga hingga hanyut terbawa arus, sementara satu bangunan mengalami rusak sedang dan enam lainnya rusak ringan.
Dampak kerusakan dari musibah ini terbilang sangat masif.
Tercatat sebanyak 64.624 jiwa dari 16.156 kepala keluarga harus merasakan langsung pahitnya kehilangan tempat berlindung akibat rumah mereka direndam air.
Kelumpuhan aktivitas harian warga diperparah dengan putusnya sejumlah akses transportasi vital antardesa.
Terdapat empat jembatan gantung yang berada di Desa Terusan, Desa Sukamenang, Desa Noman, dan Desa Tanjung Beringin dilaporkan putus total. Adapun satu jembatan gantung lainnya di Desa Batu Gajah turut mengalami kerusakan pada tingkat sedang.
Fasilitas pelayanan publik pun tak luput dari kepungan air bah.
Sektor pendidikan nyaris lumpuh total setelah 17 gedung sekolah dari jenjang taman kanak-kanak hingga sekolah menengah atas ikut terendam banjir.
Pelayanan medis di wilayah terdampak juga terhambat menyusul masuknya air ke lima unit Puskesmas Pembantu (Pustu) dan dua unit Polindes. Kerugian material semakin bertambah dengan hanyutnya sebuah bangunan musala serta terendamnya lima masjid di kawasan tersebut.
Menyikapi situasi darurat ini, Sekretaris BPBD Muratara, Mathir, menjelaskan bahwa pihaknya telah mengambil langkah penanganan yang komprehensif hingga Sabtu (09/05/2026) siang.
“Tim gabungan yang terdiri atas BPBD, Dinas Sosial, Dinas Kesehatan, Satpol-PP, serta personel TNI dan Polri telah dikerahkan ke lokasi untuk melakukan kaji cepat dan evakuasi korban,” paparnya menjelaskan progres tanggap darurat di lapangan, seperti dikutip dari Antara.
Untuk menjamin pemenuhan kebutuhan dasar para penyintas, pemerintah daerah setempat langsung mendirikan sejumlah posko logistik dan dapur umum.
“Petugas terus memantau situasi di lapangan dan melakukan pendataan awal terhadap kerugian material yang dialami masyarakat,” Mathir menambahkan.
Berdasarkan laporan mutakhir dari tim di lapangan, debit air di wilayah Kecamatan Karang Jaya kini sudah surut sepenuhnya, sedangkan di kawasan Kecamatan Rupit permukaan air mulai menunjukkan tren penurunan secara berangsur.
Kendati demikian, tingkat kewaspadaan ekstra masih terus diberlakukan bagi masyarakat yang berada di Kecamatan Rawas Ilir dan Kecamatan Karang Dapo lantaran area permukiman mereka masih terkepung air.
Hingga kini, pihak BPBD tak henti-hentinya mengimbau seluruh warga agar tetap bersiaga dan mengantisipasi datangnya risiko banjir susulan apabila curah hujan sewaktu-waktu kembali meninggi.





